Tampilkan postingan dengan label KAJIAN KEISLAMAN DAN KEILMUAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN KEISLAMAN DAN KEILMUAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 22, 2015

Ayat-Ayat Sukses

Oleh Abdullah Saleh Hadrami

Semenjak kecil saya suka membaca berbagai macam buku yang berbicara tentang kesuksesan dan orang-orang sukses. Dari semua buku yang saya baca kebanyakan menilai kesuksesan hanya berputar dalam masalah materi duniawi saja sehingga kesuksesan yang didapat hanyalah kesuksesan yang relatif dan semu.

Saya berusaha mencari makna kesuksesan yang sebenarnya dan saya yakin semua itu sudah Allah jelaskan dalam kitab suciNya, Al-Qur’an melalui firman-firmanNya.

Di dalam Al-Qur’an banyak sekali kita temukan ayat-ayat yang berbicara tentang kesuksesan dan orang-orang sukses dengan berbagai macam lafadh atau redaksi.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu saya kumpulkan ayat-ayat berikut ini yang semuanya berbicara tentang kesuksesan dan orang-orang sukses dan sudah sering saya ajarkan di beberapa majelis taklim yang saya kelola.

Ternyata sukses menurut manusia berbeda total dengan sukses menurut Allah.

Sungguh rugi orang yang mengira dirinya telah sukses dan dianggap manusia sebagai orang sukses ternyata ia termasuk orang yang gagal total.

Sukses yang sebenarnya, sejati, hakiki dan abadi adalah sukses menurut Allah dalam kitabNya, Al-Qur’an.

Sudahkah kita menjadi orang sukses yang sebenarnya..?!

Berikut ini ayat-ayat tersebut, nama surat dan nomer ayatnya;

1. Ayat dengan redaksi “Qod Aflaha”:
(QS. Al-Mukminuun: 1-11, Al-A’la: 14-15 dan Asy-Syams: 9)

2. Ayat dengan redaksi “Al-Muflihuun”:
(QS. Al-Baqarah: 1-5, Ali ‘Imraan: 104, Al-A’raaf: 8, 157, At-Taubah: 88, Al-Mukminuun: 102, An-Nuur: 51, Ar-ruum: 38, Luqmaan: 1-5, Al-Mujaadalah: 22, Al-Hasyr: 9 dan At-Taghaabun: 16)

3. Ayat dengan redaksi “Al-Muflihiin”:
(QS. Al-Qashash: 67)

4. Ayat dengan redaksi “Tuflihuun”:
(QS. Al-Baqarah: 189, Ali ‘Imraan: 130, 200, Al-Maa’idah: 35, 90, 100, Al- A’raaf: 69, Al-Anfaal: 45, Al-Hajj: 77, An-Nuur: 31 dan Al-Jum’ah: 10)

5. Ayat dengan redaksi “Al-Faa’izuun”:
(QS. At-Taubah: 20, Al-Mukminuun: 111, An-Nuur: 52 dan Al-Hasyr: 20)

6. Ayat dengan redaksi “Faqod Faaz”:
(QS. Ali ‘Imraan: 185 dan Al-Ahzaab: 70-71)

7. Ayat dengan redaksi “Fawzan”:
(QS. Al-Fath: 4-5)

8. Ayat dengan redaksi “Al-Fauz”:
(QS. An-Nisaa’: 13, Al-Maa’idah: 119, Al-An’aam: 16, At-Taubah: 72, 89, 100, 111, Yuunus: 64, Ash-Shaaffaat: 60, Ghoofir: 9, Ad-Dukhaan: 57, Al-Jaatsiah: 30, Al-Hadiid: 12, Ash-Shaff: 12, At-Taghaabun: 9 dan Al-Buruuj: 11)

Semua ayat tersebut diatas berbicara tentang kesuksesan dan orang-orang sukses yang kalau kita simpulkan bahwasanya orang sukses adalah orang yang mengikuti aturan-aturan Allah Ta’ala, ta’at kepada Allah dan RasulNya, tidak durhaka, banyak berbuat kebaikan dan manfaat untuk diri sendiri, keluarga dan orang lain, beriman dan beramal saleh, meninggal dunia HUSNUL KHATIMAH, mampu menjawab pertanyaan di kubur, selamat dari adzab kubur dan adzab neraka…MENDAPAT RIDHA ALLAH…MASUK SURGA…MEMANDANG WAJAH ALLAH YANG MAHA MULIA.

Selamat Sukses Bi Idznillah, Dengan Izin ALLAH…

@AbdullahHadrami

Sumber: http://www.kajianislam.net/2015/04/ayat-ayat-sukses-2/
Read more »

Minggu, Agustus 17, 2014

Arti Nama-Nama Bulan Hijriyah




Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari.
Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah.
Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 – 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata’ala: ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS : At Taubah(9):36).
Sebelumnya, orang arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah di tahun gajah.
Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah).
Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw.
Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku di masa itu di bangsa Arab.
Orang Arab memberi nama bulan-bulan mereka dengan melihat keadaan alam dan masyarakat pada masa-masa tertentu sepanjang tahun. Misalnya bulan Ramadhan, dinamai demikian karena pada bulan Ramadhan waktu itu udara sangat panas seperti membakar kulit rasanya. Berikut adalah arti nama-nama bulan dalam Islam:
MUHARRAM, artinya: yang diharamkan atau yang menjadi pantangan. Penamaan Muharram, sebab pada bulan itu dilarang menumpahkan darah atau berperang. Larangan tesebut berlaku sampai masa awal Islam.
SHAFAR, artinya: kosong. Penamaan Shafar, karena pada bulan itu semua orang laki-laki Arab dahulu pergi meninggalkan rumah untuk merantau, berniaga dan berperang, sehingga pemukiman mereka kosong dari orang laki-laki.
RABI’ULAWAL, artinya: berasal dari kata rabi’ (menetap) dan awal (pertama). Maksudnya masa kembalinya kaum laki-laki yang telah meninqgalkan rumah atau merantau. Jadi awal menetapnya kaum laki-laki di rumah. Pada bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam, antara lain: Nabi Muhammad saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat pada bulan ini juga.
RABIU’ULAKHIR, artinya: masa menetapnya kaum laki-laki untuk terakhir atau penghabisan.
JUMADILAWAL nama bulan kelima. Berasal dari kata jumadi (kering) dan awal (pertama). Penamaan Jumadil Awal, karena bulan ini merupakan awal musim kemarau, di mana mulai terjadi kekeringan.
JUMADILAKHIR, artinya: musim kemarau yang penghabisan.
RAJAB, artinya: mulia. Penamaan Rajab, karena bangsa Arab tempo dulu sangat memuliakan bulan ini, antara lain dengan melarang berperang.
SYA’BAN, artinya: berkelompok. Penamaan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan ini lazimnya berkelompok mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi pada bulan ini adalah perpindahan kiblat dari Baitul Muqaddas ke Ka’bah (Baitullah).
RAMADHAN, artinya: sangat panas. Bulan Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang tersebut dalam Al-Quran, Satu bulan yang memiliki keutamaan, kesucian, dan aneka keistimewaan. Hal itu dikarenakan peristiwa-peristiwa peting seperti: Allah menurunkan ayat-ayat Al-Quran pertama kali, ada malam Lailatul Qadar, yakni malam yang sangat tinggi nilainya, karena para malaikat turun untuk memberkati orang-orang beriman yang sedang beribadah, bulan ini ditetapkan sebagai waktu ibadah puasa wajib, pada bulan ini kaurn muslimin dapat rnenaklukan kaum musyrik dalarn perang Badar Kubra dan pada bulan ini juga Nabi Muhammad saw berhasil mengambil alih kota Mekah dan mengakhiri penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum musyrik.
SYAWWAL, artinya: kebahagiaan. Maksudnya kembalinya manusia ke dalam fitrah (kesucian) karena usai menunaikan ibadah puasa dan membayar zakat serta saling bermaaf-maafan. Itulah yang mernbahagiakan.
DZULQAIDAH, berasal dari kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Penamaan Dzulqaidah, karena bulan itu merupakan waktu istirahat bagi kaum laki-laki Arab dahulu. Mereka menikmatmnya dengan duduk-duduk di rumah.
DZULHIJJAH artinya: yang menunaikan haji. Penamaan Dzulhijjah, sebab pada bulan ini umat Islam sejak Nabi Adam as. menunaikan ibadah haji.
(sa/kaskus/bdm.am.ac/imerzone)
eramuslim.com
Read more »

Isteri Dunia dan Bidadari Surga


Assalamu’alaykum wr. wb.
Saya seorang suami yang baru berumah tangga selama dua tahun, sudah hampir satu tahun ini saya ditinggal wafat oleh istri tercinta yang sedang hamil delapan bulan anak pertama yang sangat kami harapkan.
Pertanyaan saya, apakah ada doa khusus yang dicontohkan oleh Rasulullah saw untuk mendoakan wafat seorang istri yang sedang hamil supaya di akhirat nanti saya dapat bertemu dan berkumpul kembali bersama mereka? syukron jazakumullah.
Wassalamu’alaykum wr. wb.
Wa’alaikumussalam wr. wb.
Doa untuk orang yang sudah meninggal adalah sebagai berikut:
” اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، وَعافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وأكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بالمَاءِ والثَّلْجِ وَالبَرَدِ، ونَقِّهِ منَ الخَطايا كما نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وأبْدِلْهُ دَاراً خَيْراً مِنْ دَارِهِ، وَأهْلاً خَيْراً مِنْ أهْلِهِ، وَزَوْجاً خَيْراً مِنْ زَوْجِهِ، وأدْخِلْهُ الجَنَّةَ، وأعِذْهُ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ أو مِنْ عَذَابِ النَّارِ “
Didalam riwayat muslim lainnya disebutkan ” وَقِهِ فتْنَةَ القَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ “
Dan apabila anda ingin menambah doa-doa lainnya yang secara khusus ditujukan untuk istri anda maka diperbolehkan bagi anda dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berdoa sekehendak anda untuk kebaikannya di akhirat serta kebaikan anda dan keluarga yang ditinggalkannya.
Dalam hal berdoa dengan menggunakan bahasa selain arab ini maka Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa berdoa diperbolehkan dengan menggunakan bahasa arab dan selain bahasa arab. Dan Allah swt mengetahui maksud dari orang yang berdoa dan keinginannya walaupun orang yang bersangkutan kurang baik didalam menyebutkannya. Dan Allah swt mengetahui kegaduhan suara-suara yang berdoa dengan berbagai bahasa untuk berbagai macam keperluan.” (Majmu’ al Fatawa juz XXII hal 488 – 489)
Bagaimana Keadaan Seorang Istri di Surga
Adapun jika seorang wanita meninggal sebelum dia sempat menikah dengan seorang laki-laki maka Allah lah yang menikahkannya kelak di surga dengan seorang lelaki dunia, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Tidaklah ada di surga seorang bujang.” (HR. Muslim). Syeikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa jika seorang wanita belum menikah di dunia maka Allah swt yang menikahkannya dengan seseorang yang menyedapkan pandangan matanya di surga. Kenikmatan di surga tidaklah terbatas untuk kaum laki-laki akan tetapi untuk kaum laki-laki dan wanita dan diantara kenikmatan itu adalah pernikahan. Demikian halnya dengan seorang wanita yang meninggal dalam keadaan sudah dicerai.
Demikian pula terhadap seorang wanita yang suaminya tidak masuk surga, Syeikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa seorang wanita yang masuk surga dan belum menikah atau suaminya tidak termasuk kedalam ahli surga maka jika wanita itu masuk surga dan di surga terdapat lelaki dunia yang belum menikah maka seorang dari merekalah yang menikahinya.
Adapun seorang wanita yang meninggal setelah menikah dan dia termasuk ahli surga maka di surga dia akan bersama suaminya yang menikahinya saat meninggalnya.
Adapun seorang wanita yang ditinggal suaminya terlebih dahulu kemudian ia tidak menikah lagi setelahnya hingga dia meninggal dunia maka wanita itu akan menjadi istrinya di surga.
Adapun seorang wanita yang ditinggal suaminya terlebih dahulu kemudian ia menikah lagi setelah itu maka wanita itu menjadi istri bagi suaminya yang terakhir walaupun wanita itu pernah menikah dengan beberapa laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Seorang istri untuk suaminya yang terakhir.” (Silsilatu al Ahadits ash Shahihah Lil Albani) dan perkataan Hudzaifah kepada istrinya,”Jika engkau mau menjadi istriku di surga maka janganlah engkau menikah sepeninggalku. Sesungguhnya seorang istri di surga adalah untuk suaminya yang terakhir di dunia. Karena itu Allah swt mengharamkan istri-istri Nabi untuk menikah sepeninggal beliau saw karena mereka adalah istri-istrinya saw di surga.”
Wallahu A’lam
-Ustadz Sigit Pranowo Lc-

ermuslim.com
Read more »

Isu ISIS Momentum Kriminalisasi Islam

Oleh : Umu Fikri (Pemerhati Media)

Menarik mencermati program acara Gesture, TV One, 13 Agustus 2014, jam 19.00 tentang ISIS dan Khilafah bersama Cholil Nafis (MUI Pusat), Nasir Abbas (Pengamat Terorisme, Veteran Mujahidin Afghanistan mitra BNPT) dan Jubir HTI, Ismail Yusanto.
Logika yang dibangun baik Cholil Nafis maupun Nasir Abbas saling terkait dan membangun sebuah justifikasi diantaranya :
Pertama, bahwa ideologi ISIS adalah ideologi penuh dengan kekerasan (baca Jihad).
Kedua, ideologi ISIS sengaja ditujukan kepada pemerintah status quo baik yang ada di Irak dan Suriah khususnya maupun status quo di berbagai negara yang ada pengikut dan simpatisannya.
Ketiga, karena alasan pertama dan kedua itulah maka ISIS bersama seluruh pengikut simpatisannya bermaksud mengganti atau bahkan menumbangkan ideologi dan penguasa negara yang berkuasa di berbagai negara saat ini.
Apalagi Nasir Abbas secara historis kemudian menjelaskan tentang NII. Beserta keterkaitannya dengan Ust Afif yang disinyalir sebagai pentolan ISIS Indonesia. Yang ditangkap di Jatiasih mirip dengan modus infotainment penangkapan teroris sebelum ISIS marak. Sementara Cholil Nafis begitu semangat membenturkan konsep khilafah dengan NKRI dengan mengambil momentum isu ISIS ini. Dan menegaskan berulang ulang bahwa NKRI harga mati. Sebaliknya khilafah tidak sesuai atau bertentangan dengan pilar-pilar negara. Walaupun Nafis juga menganggap bahwa jika hanya wacana saja maka itu dianggap tidak berbahaya. Jubir HTI yang diberikan kesempatan pada bagian akhir menyampaikan bahwa khilafah ala ISIS dianggap tidak sah secara syar’i karena tidak mencukupi syarat-syaratnya. Seraya menjelaskan bahwa khilafah adalah ajaran islam yang memuat substansi syariah, dakwah dan ukhuwah. Sambil menegaskan kenapa harus menolak ajaran islam sendiri yang menjadi keyakinan mayoritas bangsa di negeri ini. Ismail Yusanto juga menjelaskan pentingnya proporsional menanggapi ISIS karena rawan dengan adu domba, kriminalisasi dan monsterisasi ajaran islam khususnya tentang khilafah. Pada akhir penjelasan, Ismail menjelaskan bahwa kemunculan ISIS tidak bisa dipisahkan dengan problem dunia atas hegemoni negara-negara adi daya AS terhadap dunia islam. Tinggal bagaimana islam menjawab tantangan ini.
Sebagaimana layaknya sebuah konsep acara talkshow dalam sebuah tayangan program acara televisi maka di awal selalu dirumuskan script tentang isi dan alur materi talk show. Dan jika kita perhatikan maka konten materi talk show itu memuat pokok-pokok pikiran antara lain :
Pertama, ISIS adalah organisasi teroris yang berhasil mendirikan khilafah.
Kedua, ide khilafah yang diusung ISIS adalah ideologi teroris maka dianggap berbahaya.
Ketiga, ide khilafah bertentangan dengan NKRI.
Keempat, maka siapapun atau kelompok manapun yang mengusung ide khilafah baik ISIS maupun non ISIS dianggap berbahaya dan mengancam NKRI. Dengan konstruksi seperti itu maka isu ISIS bisa diluaskan spektrum sasarannya ke obyek sasaran lebih luas. Untuk konteks talkshow itu maka jelas bahwa isu ISIS akan disasarkan bukan hanya kepada para pengikut dan simpatisan ISIS melainkan juga kepada semua yang berkeinginan memperjuangkan tegaknya syareah dan khilafah di negeri ini.
Sebuah konstruksi mirip dengan logika yang dibangun atas proyek “war on terrorism”. Hanya momentumnya yang berbeda. Jika awalnya menggunakan momentum 9/11 WTC dengan mengaitkan kelompok Al Qaeda pimpinan Usamah bin Laden. Di tengah kejanggalan di seputar persoalan pengeboman itu sebagai sebuah rekayasa alat legitimasi saja. Agak berbeda dengan momentum WTC dengan sasaran Al Qaeda yang dijadikan legitimasi invasi militer AS ke Irak dan Afghanistan. Maka momentum ISIS lebih seksi dimainkan karena lebih berakar dari konflik internal para mujahidin yang diciptakan. Dan seolah-olah lebih rasional untuk menjelaskan bahwa dukungan atas ISIS memang benar-benar sebagai ancaman nasional. Persis dengan pernyataan Ansyaad Mbai di sebuah stasiun TV yang menyampaikan beda antara Al Qaeda dengan ISIS. Jika Al Qaeda sasarannya negara-negara besar seperti AS dan Rusia. Kalau ISIS sasarannya adalah negara-negara manapun tempat keberadaan ISIS termasuk simpatisan dan anggotanya. Yang sudah dianggap sebagai warga negara IS (Islamic State) atau Khilafah ala ISIS. Nampaknya akan selalu ada judul baru dan jangka panjang untuk mempertahankan eksistensi proyek “war on terrorisme” baik di tingkat global maupun nasional.
Hal ini nampak dari temuan kasus beberapa peristiwa penangkapan dan penembakan mati terduga teroris yang disinyalis sebagai bagian dari ISIS. Seperti penangkapan di Jatiasih, Banyumas dan Surabaya. Tuduhan atas terduga teroris di tiga tempat itu masih terkait dengan kasus dugaan terorisme lama namun dibangun dengan setting opini bersindikasi dengan ISIS. Pertanyaan kemudian adalah sampai kapan IS ala ISIS dijadikan momentum pembenaran untuk mengkriminalisasi dan memonsterisasi islam atas nama war on terrorism ? Maka berpulang kepada yang punya proyek.
Tetapi ingatlah Firman Allah Subhanahu Wa Ta’alla : “Mereka (orang-orang kafir itu) membuat makar, dan Allah membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.” (Ali Imran : 54). “Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir itu) merencanakan tipu daya yang jahat dengan scbenar-be-narnya. Dan Aku pun merencanakan tipu daya pula, dengan sebenar-benarnya.” (Ath-Thariq : 15-16). “Dan Dia-lah Dzat Yang Maha keras tipu daya-Nya.” (Ar-Ra’d : 13). Wallahu a’lam bis shawab.

eramuslim.com
Read more »

Sabtu, Agustus 16, 2014

Istiqomah dan Langkah-langkahnya



Dr. Muzani Jalaluddin 
(Dosen Universitas Negeri Jakarta)

Tarbiyah sudah membawa kita ke alam yang insyaallah penuh berkah dan nikmat. Tidak semua mendapatkan jalan ini. Masing-masing atas izin Allah SWT melalui cara dan jalur yang berbeda untuk sampai ke alam tarbiyah ini. Oleh karena itu sangat pantas bagi tiap kader dakwah untuk mensyukuri alam tarbiyah ini salah satunya dengan istiqomah di jalan dakwah. Tulisan ini sedikit mengingatkan akan makna dan langkah-langkah istiqomah yang sudah barang tentu setiap kader dakwah ini sudah pernah mempelajari masalah ini.

Ketenangan merupakan suatu impian dan tujuan utama bagi manusia dalam menjalani hidup. Ujung dari pada kemenangan manusia adalah mendapatkan ketenangan dan kedamaian bukan hanya di dunia melainkan juga di akhirat.

Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) : janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”(Fusshilat 30-32).

Ayat ini menerangkan bahwa dengan beristiqomah manusia mampu berjaya di dunia dan di akhirat. Dan istiqomah itu sendiri merupakan suatu pola sikap hidup manusia yang harus dinyatakan setelah ia benar-benar bersaksi bahwa ia telah beriman kepada Allah SWT.

Jika kita kaitkan dengan surat Fusshilat ayat 30 bahwa istiqomah pada ayat tersebut adalah keteguhan seseorang untuk memosisikan dirinya agar selalu berpegang teguh kepada keimanannya.

Di dalam beberapa tafsir yang mashur juga akan kita dapatkan keterangan-keterangan yang menerangkan makna istiqomah yang terdapat dalam surat Fussilat ayat 30-32. Dari tafsir-tafsir tersebut ada satu arti yang terlihat lebih sempurna dan lengkap dibandingkan yang lainnya yaitu Istiqomah berarti lurus/tetap di dalam ketaatan baik secara keyakinan, perkataan, maupun perangai diiringi dengan kontinuitas.

Maka jelaslah bagi kita bahwa istiqomah adalah konsekuensi seorang mukmin kepada keimanannya yang diaplikasikan secara penuh baik secara batiniyah maupun lahiriyah secara terus menerus.

Sekarang timbullah pertanyaan, apakah keistiqomahan itu sesuatu hal mudah untuk dicapai? 

Maka jawabannya tentunya tidak. Karena jikalau istiqomah itu mudah didapatkan maka tidak sesuai dengan peranan ayat 30 surat Fussilat yang berbunyi ثمّ استقاموا. Kata ثمّ dalam bahasa arab artinya lalu / kemudian merupakan sebuah kata yang berkaitan erat dengan proses sesuatu yang membutuhkan waktu yang cukup lama. 

Begitu juga keterangan-keterangan Allah SWT di dalam Al-Qur’an serta hadits-hadits Rasulullah SAW serta segala alam yang ada ini membuktikan bahwa manusia memang harus berikhtiar keras untuk mencapai kebenaran termasuk istiqomah itu sendiri.

Allah berfirman : Tunjukilah kami jalan yang lurus... 

"Ihdina" (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

Allah mengajari kita agar kita harus selalu berupaya untuk memohon kepadaNya agar selalu diberi kemampuan untuk berjalan di atas jalanNya yang lurus. Maka bagaimanakah kita bisa sampai kepada titik istiqomah ? Disini kami berusaha untuk menerangkan langkah-langkah yang insya Allah dapat membantu kita dalam beristiqomah.

(Bersambung)
Read more »

Minggu, Agustus 10, 2014

"Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah"


Rasulullah pernah berkata kepada al-Mundzir, kepala kabilah Abdul Qais, "Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah, yaitu sifat penyabar dan tidak suka tergesa-gesa." Lalu ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah aku berusaha berperilaku seperti itu, atau Allah menjadikanku berwatak dengan keduanya?" Nabi SAW menjawab, "Allahlah yang menjadikanmu berwatak dengan keduanya." Al-Mundzir pun berucap, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku berwatak dengan dua tabiat yang dicintai Allah dan Rasul-Nya." (HR Abu Dawud).

Sikap penyabar, lembut, kalem, dan tenang tak hanya dimiliki dan diserukan oleh Rasulullah, tapi juga dianjurkan oleh nabi-nabi yang lain. Mengapa begitu, karena kesabaran seorang penyabar--kata Ahmad ar-Rasyid dalam bukunya al-`Awa'iq--adalah benteng yang akan melindunginya dari fitnah, sifat pemarah, dan egois, sehingga ia mampu berlaku adil dalam berbagai keputusannya. Sedangkan sifat "tidak ceroboh" akan memberikan kesempatan untuk menganalisis dan menimbang-nimbang, sehingga tidak ada lagi keraguan.

Sementara itu, sifat ceroboh dan tergesa-gesa menjadikan seseorang tidak cermat dalam menyelesaikan persoalannya, karena ada nafsu yang ikut bermain di dalamnya. Orang yang tergopoh-gopoh sering bertindak keliru dalam hidupnya yang akhirnya membuahkan penyesalan. Kecerobohan juga sering menjadi penyebab dari hilangnya keteguhan dan komitmen seseorang. 

Orang yang tergesa-gesa akan mudah patah semangat manakala dibenturkan oleh perkara yang sepele sekalipun. Sebaliknya, orang yang lembut, kalem, dan tenang mempunyai konsentrasi yang tinggi untuk menata dirinya agar lebih baik. Ia kelihatannya berada dalam kebisuan, tapi pikirannya bergerak dinamis. Ia bertindak bukan dengan nafsu dan amarahnya, tapi bergerak dengan pikirannya.

Nabi meraih simpati yang besar dari umat manusia, karena Allah SWT telah melembutkan hatinya sebagaimana firman-Nya: "Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu ...." (Ali Imran [3] : 159).

Kalau teori manajemen modern merekomendasikan bahwa sebuah manajemen yang baik harus mengandung unsur POAC (planning, organizing, actuating, dan controlling), maka seorang yang kalem, lembut, dan tidak tergopoh-gopoh akan memiliki kesempatan yang full untuk melakukan controlling. Hal ini senapas dengan sabda Nabi: "Perlahan-lahan dari Allah dan tergesa-gesa dari setan." (HR Baihaqi).

Sifat kalem, tenang, dan perlahan-lahan tentu tidak identik dengan kelambanan sehingga melewati deadline, namun ia bergerak secara tertata. Demikian pula sifat tergesa-gesa; ia harus dibedakan dengan sikap positif dan penuh percaya diri, yang kadang ditampilkan dan dikesankan dengan bertindak tergesa-gesa dan terburu-buru. Seorang Mukmin yang sejati, yang mempunyai tsiqah (kepercayaan) yang tinggi pada Allah juga kerap kali bertindak dinamis. Tentu saja naif untuk menyebut mereka bertindak ceroboh.

Wallahu a`lam bish-shawab. 

pkspiyungan.org
Read more »

Jumat, April 04, 2014

Anis Matta Jadi Saksi Mualafnya Mudji Massaid

PALU -- Mudji Massaid, adik dari mendiang politisi Partai Demokrat Adji Massaid mengucapkan dua kalimat syahadat di pondok pesantren (Ponpes) Al-Chairaat Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) Kamis (3/4/2014).

Mudji yang sosoknya sempat dikenal khalayak sebagai pendamping Angelina Sondakh ketika menghadapi proses hukum di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini dituntun Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri bersyahadat.

Dalam acara pemualafan itu, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta hadir dalam acara itu. Anis mengaku bahagia cahaya Islam bisa mengantar Mudji ke gerbang mualaf. Ia senang, hidayah kepada Mudji menguat manakala ikut serta dalam beberapa kampanye yang PKS gelar jelang Pemilu 2014 ini.

"Sebetulnya secara pribadi belum kenal baik, tapi waktu ikut PKS dia ungkapkan ingin masuk Islam, jadi Alhamdulilah sekarang realisasinya Mualaf," ujar Anis. (ROL)


Mudji Massaid dihadapan Anis Matta dan Mensos Salim Segaf sebelum pengucapan syahadat

Dibimbing Mensos Salim Segaf, Mudji Massaid mengucapkan Syahadat

Mudji Massaid (dua dari kiri) dan rekan-rekan artis sering ikut dalam acara Kampanye PKS
Read more »

Kamis, Februari 13, 2014

Dosa Meninggalkan Shalat Fardhu

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini banyak sekali saudara-saudara kita yang meninggalkan sholat dengan beragam macam alasan.

Terlalu mudah untuk menunjukan bukti bahwa umat Islam saat ini khususnya di Indonesia sudah banyak yang melalaikan shalat. Dapat kita saksikan bagaimana di saat azan berkumandang maka tempat-tempat yang dipenuhi umat Islam bukanlah masjid-masjid. Akan tetapi di jalan-jalan, di pusat perbelanjaan, di warung-warung makan dan sebagainya.

Apa yang menyebabkan mereka begitu ringan meninggalkan kewajiban yang teramat agung ini. Yang pensyariatannya tidak melalui malaikat Jibril 'alaihis salam seperti kewajiban-kewajiban yang lain, akan tetapi langsung dititahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam di langit ke tujuh.

Sering kita mendengar para ustadz mengatakan bahwa sholat adalah tiang agama. Seperti yang dituturkan oleh Mu’adz bin Jabal, bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Shalat juga merupakan pembatas antara orang beriman dengan orang kafir. Seperti yang dikatakan oleh Jabir radhiyallahu 'anhu Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Dari Buraidah radhiyallahu 'anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Ikatan janji di antara kami (umat islam) dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Maka barang siapa yang meninggalkan shalat, berarti dia telah menjadi kafir.” (HR. Tirmizi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan sahih)

Jabir berkata, Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh yang memisahkan antara seorang laki-laki (baca: muslim) dengan kesyirikan dan kekufuan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82)

Asy-Syaukani berkata dalam Nailul Authar (1/403), “Hadits ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat termasuk dari perkara yang menyebabkan terjadinya kekafiran.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah juga menerangkan perbedaan antara kata ‘al-kufru’ (memakai ‘al’) dengan kata ‘kufrun’ (tanpa ‘al’). Dimana kata yang pertama (yang memakai ‘al’/makrifah) bermakna kekafiran akbar yang mengeluarkan dari agama, sementara kata yang kedua (tanpa ‘al’/nakirah) bermakna kafir asghar yang tidak mengeluarkan dari agama. Sementara dalam hadits di atas dia memakai ‘al’. (lihat Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim hal. 70)

Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Yang dimaksud dengan kekafiran di sini adalah kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan shalat sebagai batas pemisah antara orang orang mu’min dan orang orang kafir, dan hal ini bisa diketahui secara jelas bahwa aturan orang kafir tidak sama dengan aturan orang Islam. Karena itu, barang siapa yang tidak melaksanakan perjanjian ini maka dia termasuk golongan orang kafir.”

Dari Abdullah bin Syaqiq Al-Uqaili radhiyallahu anhu dia berkata: “Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berpendapat mengenai sesuatu dari amal perbuatan yang mana meninggalkannya adalah suatu kekufuran melainkan shalat.” (HR. At-Tirmizi no. 2622)

Ibnu Qayyim Al Jauziyah Ra. mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)

Selain dalil-dalil hadits diatas. Ada lagi dalil pamungkas yang langsung difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala mengenai hukuman bagi orang-orang yang enggan mengerjakan shalat “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….” (Al-Muddatstsir: 42-43) []

Penulis : Zain
STIDDI Al-Hikmah, Bangka Raya Angkatan 39 (2008 - 2013)

sumber: bersamadakwah.com
Read more »

Video Menyentuh Hati, Bangkitnya Generasi Qur’ani

Sebuah video menyentuh hati telah diunggah di Youtube, baru-baru ini. Video berdurasi 6 menit 10 detik ini merekam aktifitas pemuda-pemudi Muslim yang membaca Al Qur’an di beragam situasi.

Di sebuah gedung olah raga, tampak seorang akhwat asyik membaca Qur’an. Sementara gadis-gadis lain di sekitarnya mengamati dengan penuh keheranan. Bagaimana mungkin di zaman ini, ada generasi Qur’ani seperti ini? Mungkin demikian mereka saling bertanya.

Di sebuah antrian panjang di depan loket, tampak dua akhwat menyelesaikan tilawah hariannya. Dua antrian di belakang mereka, juga terlihat seorang ikhwan asyik membaca Qur’an.

Banyak pemandangan lain yang direkam dalam video ODOJ (One Day One Juz) ini. Ada pemuda yang membaca Qur’an di halte, ada membaca di SPBU, dan beragam kondisi lainnya.

Benarkah ini tanda-tanda bangkitnya generasi Qur’ani di Indonesia? Semoga

download dan lihat vedio disini

sumber:bersamadakwah.com
Read more »

Begini Suasana Hari Pertama Shalat Jamaah Berhadiah Innova

Peserta shalat Dzuhur berjamaah dengan hadiah ongkos haji dan umrah serta mobil Innova dan Avanza di Bengkulu membludak. Masjid At Taqwa berukuran sekitar 2500 meter persegi tidak muat menampung ribuan jama’ah yang mayoritasnya adalah pegawai negeri sipil (PNS) Kota Bengkulu. Akibatnya, sebagian jama’ah menunaikan shalat di teras luar.

Dikutip dari Kompas yang memantau shalat berhadiah itu, para PNS datang di masjid sekitar pukul 11.45 WIB. Mereka datang secara bergelombang. Sebagian langsung mengisi kotak kardus yang disiapkan panitia sesuai dengan status kepegawaian mereka, mulai PNS hingga honorer.

"Bagi yang honorer silakan masukkan biodata dan fotokopi KTP di kotak yang tersedia," teriak beberapa petugas panitia yang menjaga kotak absen pengundian.

Selain tempat wudhu milik masjid, panitia juga menyediakan satu truk tangki air untuk antisipasi jika ada yang kekurangan air untuk berwudhu. Halaman masjid yang luas tampak sesak dengan ratusan kendaraan motor dan mobil sehingga merepotkan petugas parkir masjid.

Meski masjid tampak penuh sesak dan adzan telah berkumandang, beberapa jemaah lain tampak masih sibuk mengisi biodata dan mencari tempat fotokopi KTP. Beberapa PNS perempuan bahkan ada yang kebingungan mencari tempat fotokopi. "Dik, di mana tempat fotokopi KTP dekat-dekat sini ya?" tanya salah seorang PNS perempuan yang telah menggunakan mukena untuk shalat.

Wali Kota Bengkulu, Helmi Hasan, saat ditemui di masjid menyatakan shalat berhadiah ongkos haji, umrah, dan bonus mobil Innova tersebut merupakan rangsangan bagi warga agar mau meramaikan masjid. [AM/Kompas/Bersamadakwah]
Read more »

Senin, Februari 10, 2014

Taubatnya Para Penyihir Firaun

Oleh: (alm) Nurul F Huda

Episode surat Asy Syu’ara’ ayat 41 sampai dengan 51 alias Penyihir Fir’aun. Sebuah episode keimanan yang di ayat 46 sampai 51 mampu menggedor dada dan membuat mata terkembang air. Sebuah proses keimanan revolusioner yang sungguh luar biasa! Benar-benar jauh dari jangkauan keimanan yang bisa saya bayangkan.


41. Maka tatkala Ahli-ahli sihir datang, merekapun bertanya kepada Fir'aun: "Apakah Kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika Kami adalah orang-orang yang menang?"
42. Fir'aun menjawab: "Ya, kalau demikian, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku)".
43. Berkatalah Musa kepada mereka: "Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan".
44. Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata: "Demi kekuasaan Fir'aun, Sesungguhnya Kami benar-benar akan menang".
45. Kemudian Musa menjatuhkan tongkatnya Maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu.
46. Maka tersungkurlah Ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allah),
47. Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,
48. (yaitu) Tuhan Musa dan Harun".
49. Fir'aun berkata: "Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya Dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu Maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); Sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya".
50. Mereka berkata: "tidak ada kemudharatan (bagi kami); Sesungguhnya Kami akan kembali kepada Tuhan Kami,
51. Sesungguhnya Kami Amat menginginkan bahwa Tuhan Kami akan mengampuni kesalahan Kami, karena Kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman".

Bagaimana tidak luar biasa? Yang beriman ini adalah para penyihir. Saat itu di Mesir, penyihir memiliki kedudukan yang strategis. Kerajaan Mesir boleh dikatakan dikendalikan oleh penyihir, hidup di dunia sihir, masyarakat menjadikan sihir sebagai referensi. Maka, apalagi yang hendak dicari para penyihir? Reputasi, jelas. Kedudukan sosial, pasti. Uang, otomatis. Maka, ketika mereka akhirnya memilih keimanan, ini tebusan yang mahal (dalam ukuran dunia). Mereka harus siap kehilangan segala-galanya.
        
Tengoklah, bagaimana Allah membekali RasulNya apa yang sesuai dengan ukuran-ukuran manusia top saat itu. Nabi Musa diberi mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya setelah dimasukkan ke dalam jubah, karena memang saat itu, negeri yang dituju, manusia paling diakui, ilmu paling dicari, adalah sihir. Simak komentar Fir’aun setelah menyaksikan mukjizat tersebut, “Sesungguhnya dia (Musa), pasti seorang penyihir yang pandai!” (ayat 34).            

Maka, atas usul para pemukanya, Fir’aun pun mengumumkan ke khalayak ramai agar berkumpul menyaksikan “perang sihir” antara Musa dan para penyihir pilihan. Karena ini tanding kelas wahid, saya bayangkan, Fir’aun dan pemukanya melakukan uji kelayakan yang ketat terhadap para penyihir. Iya, dong. Ini menyangkut eksistensi seorang Fir’aun, manusia paling sombong yang berani mengatakan “Ana robbukumul a’la” (Sayalah tuhan yang paling tinggi). Masak, tuhan kalah dengan “pelarian” yang membawa tongkat dan tangan bercahaya? Jadi, Fir’aun mempertaruhkan banyak hal di sini.            

Kita akan masuk pada ayat-ayat yang menggetarkan itu (41 sd 45). Para penyihir tersebut datang dengan karakter penyihir. Apa yang mereka katakan kepada Fir’aun? Mereka bicara tentang imbalan yang besar (materi, uang, kekayaan). Apa jawab Fir’aun? Jelas, mereka dijanjikan imbalan besar bahkan lebih dari itu, mereka dijanjikan kedudukan yang dekat dengan Fir’aun. Ha, apalagi yang lebih menggiurkan? Kekayaan dan kedudukan akan menarik kesenangan-kesenangan yang lain (perempuan, makanan-minuman, kemegahan penampilan, dll).

Di sini kita lihat, bagaimana pola pikir para penyihir. Ya, duniawi sekali. Merasa akan mendapatkan imbalan besar dan yakin dengan kemampuannya (maklum, sudah bertahun-tahun menjadi penyihir, terbaik di Mesir, yang dihadapi “pemuda kemarin sore”), mereka pun dengan pede mengatakan, “Demi kekuasaan Fir’aun, pasti kamilah yang akan menang”. Perang tanding pun dimulai dengan adu “bikin” ular.            

Inilah bagian yang paling menakjubkan, menggetarkan, membuat saya sudah tidak bisa lagi mengira-kira, apalah jenis keimanan saya ini. Jauuuuuuuh dibanding para penyihir tersebut, yakni ayat 41 sd 51. Melihat ular Nabi Musa, para penyihir langsung menyungkur, beriman, dan berani menentang ancaman Fir’aun!

Entah, berapa menit (jam?) adu ular itu, namun perubahan dari titik hitam penyihir (penyihir pastilah “menyembah” setan, kalau diruqyah, jin-jin di tubuhnya sudah menjadi kerajaan), belum sekalipun mendengar dakwah tentang Tuhan, selain tuhan Fir’aun, hidup sebagai manusia yang kuat eksistensinya dari sisi apa pun, bisa seketika langsung beriman! LANGSUNG! Apalagi proses keimanan yang lebih revolusioner dari ini? Berubah seketika!           

Resiko yang dihadapi? Bukan hanya kehilangan apa yang dimiliki, apa yang dijanjikan, namun ancaman mematikan yang mengerikan. Mengerikan! (“….pasti akan kupotong tangan dan kakimu bersilang dan sungguh, akan kusalib kamu semuanya!”). Dipotong tangan dan kaki. Padahal, di pangkal-pangkal bagian tubuh itulah ada pembuluh arteri yang jika tertusuk saja darah segar akan segera menyembur. Sakit? Bunuh diri yang paling menyakitkan adalah dengan memotong nadi. Darah mengucur, tubuh lemas, baru kemudian mati kehabisan darah. Ini, dipotong tangan dan kaki. Fir’aun benar-benar paham anatomi dan mutilasi. Disalib. Rasanya, hukuman gantung masih lebih manusiawi daripada penyaliban. Yang diancamkan Fir’aun bukan sekedar hukuman, namun psi war, perang psikologis, teror, penyiksaan. Mati pelan-pelan.            

Jawaban para penyihir sungguh mengharukan, “Tidak ada yang kami takutkan karena kami akan kembali pada Tuhan kami (mati=bertemu Tuhan).” Lalu, ayat berikutnya lebih mengharu-biru, “Sesungguhnya kami SANGAT menginginkan sekiranya Tuhan kami MENGAMPUNI kesalahan kami karena kami menjadi  YANG PERTAMA-TAMA beriman.”  Kesadaran akan kesalahan di masa lalu, harapan yang besar akan masa depan (akhirat) karena pilihan yang memang penuh pengorbanan. Yang patut diingat, perang tanding ini dilakukan di hadapan khalayak. Maka, bisa dibayangkan betapa malunya Fir’aun. Di sisi lain, secara tidak langsung para penyihir telah meninggalkan “kader-kader” orang beriman kemudian.            

Mengapa para penyihir itu beriman? Al Fahmu. Kefahaman. Ilmu. Mereka tahu apa itu sihir berikut segala produk dan “pembuatannya”. Maka, saat mereka menyaksikan ular besar Nabi Musa, mereka langsung paham, bahwa yang ada dihadapan mereka BUKAN SIHIR. Mereka sadar, mereka tidak akan menang. Ini kekuatan yang lain. Kefahaman dan kesadaran yang membawa ketundukan dan keimanan luar biasa. Keimanan yang harus ditebus dengan semua yang dimiliki, termasuk nyawa.***


sumber:pkspiyungan.org
Read more »

Sabtu, Februari 08, 2014

Raih Kehormatan dan Kebaikan dengan Al Qur'an

"Raih Kehormatan dan Kebaikan dengan Al Qur'an"

(Taujih DR Ahzami Sami'un Jazuli pada khataman qur'an ODOJ 873 di Masjid An Nur Graha Indah)


وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ ۖ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ

"Dan Sungguh, Al Qur'an itu benar-benar suatu kehormatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban." (QS 43:44)

Ummatal qur'an hafidzokumulloh,

Nikmat terbesar dalam hidup adalah Al qur'anul karim. Kaum muslimin yg selalu berinteraksi dengan Al Qur'an mendapat kedudukan yg sangat istimewa.

Wa innahu ladzikrullaka, ladzikrullaka bermakna lasyarfun laka/kehormatan untukmu, dan kaummu dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban.

Ibrohnya:

1. Al Qur'an adalah kehormatan dan tanggung jawab. Kehormatan seluruh kaum mu adalah siapa yg terbaik dalam interaksinya dengan Al Qur'an. Sebagaimana: Khoirukum man ta'allamal wa 'allamahu.  Belajar Al Qur'an dan mengajarkannya. Atau Man 'amilalquran wa 'allamah.
Al Qur'an  juga merupakan masuliyah, tanggungjawab kita kepada Allah Swt, sejauh interaksi kita terhadap Al Qur'an.

Alhamdulillah kita dipilih untuk selalu berinteraski dengan Al Qur'an, diantaranya melalui sarana ODOJ (One Day One Juz) ini.

2. Al Khoiriyatu bada'at minal quran: kebaikan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dimulai dengan Al Qur'an.

Orang sejahat apapun kalau sudah mulai berinteraksi dengan Al Qur'an, membaca dan seterusnya, akan berubah menjadi orang yang lebih baik.

Contoh sahabat Umar bin Khothob, sebelum masuk islam, sebelum berinteraksi dengan Al Qur'an, beliau banyak melakukan kejahiliyahan: anak perempuannya dibunuh, membuat tuhan dari manisan/berhala untuk sembah, ketika lapar, tuhannya dimakan. Berniat membunuh Nabi Muhammad, ketika mendapat informasi bahwa saudara perempuannya dan iparnya sudah menjadi pengikut Muhammad Saw, berubah ingin membunuh saudara dan iparnya tersebut, tetapi ketika sampai di tempat persembunyian kaum muslimin, Umar bin Khothob mendengar tilawah Al Qur'an, surat Thoha, Umar berubah beliau masuk Islam. Dan Setelah masuk islam beliau menjadi pejuang Al Qur'an, beliau menjadi pemimpin yang keadilan termasyhur, tidak hanya kepada manusia, bahkan tumbuh-tumbuhan: 'seandainya sehelai daun jatuh di negeri irak disebabkan negara tidak mengurusnya, Umar bertanggungjawab."

Oleh karena itu, kalau kita ingin memperbaiki diri dan pemimpin mulailah dengan Al Qur'an. Kita lembutkan hati kita dengan berinteraksi dengan Al Qur'an.  Lau anzalna hadzal qur'an 'ala jabalin laroaitahu khosyi'an mutashoddi'an min khosyatillah.

Gunung bisa hancur, berubah dengan Al Qur'an, oleh karena itu kalau ada orang tidak berubah dengan Al Qur'an, siapa yang hatinya lebih keras?

Bidayatul khoir, meningkatkan kebaikan dimulai dengan Al Qur'an.

3. Ahli Al Qur'an di dalam Islam mendapat awlawiyat, diutamakan. Ketika di masjid belum ada imam, mau sholat berjamaah, siapa yg paling berhak menjadi Imam? ahlul qur'an.
Pertemuan semacam  ini tidak sekedar tatsqif/penambah wawasan, harus jadi arahan untuk diamalkan.

4. Supaya tidak terjebak dalam juz'iyah (parsial), orang yang ahlul quran adalah orang yg berjihad di jalan Alloh.

Ketika Rasul wafat, digantikan sahabat Abu Bakar ash shidiq, masalah utama saat itu adalah: murtad, munculnya nabi palsu, orang mulai tidak mau membayar zakat. Sahabat Abu Bakar. r.a. yang berperangai lemah lembut, ketika berhadapan dengan kondisi tersebut,  kebijakan yang beliau ambil perangi orang yang murtad, nabi palsu dan orang yang tidak membayar zakat.

Juga setelah dalam peperangan ada 70 penghafal Qur'an yang syahid di medan jihad, maka Umar ra  mempunya ide agar Al Qur'an dikodifikasikan, karena saat itu terserak di banyak tempat.

Sahabat Abu bakar awalnya menolak, ini bid'ah, tidak ada di jaman nabi. Namun setelah terjadi dialog dan Allah berikan syarhu sodr/kelapangan dada, Abu Bakar ra.  menerima masukan dari Umar bin Khothob ra.

Ketika kita dan anak keturunan kita berinteraksi dengal Al Qur'an, melalui tilawah, tadabbur, tahfidz, mengamalkan dan mendakwahkan Al Qur'an,  jangan lupa berjihad di semua sektor kehidupan (politik, ekonomi, pendidikan dsb).

Perjuangan kita harus utuh.

Wallohu a'lam bishowab.


*ditulis by @bambanghsbekasi

sumber: pkspiyungan.org
Read more »

Rabu, Februari 05, 2014

Haruskah Berwudhu Dengan Air Dua Qulah?

Assalaamu'alaikum 

Ustaz, ana mau tanya sedikit. Apakah ada dalil yg mengharuskan berwudhu dengan air 2 qullah,  seperti yang diyakini kebanyakan kaum muslimin yang memang mengikuti madzhab Asy-Syafi'iyah.

Jika ada, bagaimana cara pengamalannya?

Baarokallahu fiyk..


Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Banyak memang orang yang menyangka bahwa dalam madzhab Al-Syafi’iyyah, berwudhu itu harus memakai air yang jumlahnya mencapai 2 qulah atau lebih. Kalau kurang dari 2 qullah, tidak boleh dipakai buat berwudhu.
Sampai-sampai pada beberapa kesempatan, saya sering kali melihat ada orang yang tidak mau berwudhu kecuali jika air itu banyak atau melimpah seperti di kolam besar. Padahal sebenarnya tidak demikian duduk persoalannya. Singkatnya, sama sekali tidak ada syarat harus ada air 2 qullah dulu baru boleh wudhu dalam madzhab Al-Syafi’iyyah.
Pemahaman masalah ini perlu kita pahami dengan hati-hati dan kritis, sebab kalau tidak bisa tergelincir menjadi kekeliruan fatal. Bukan berarti kita ingin menolak pendapat mazhab Asy-syafi'iyah. Justru kita ingin meluruskan kesalah-pahaman yang banyak melanda khalayak terhadap mazhab Asy-syafi'iyah ini.
Perhatikan baik-baik. Sebenarnya syarat berwudhu itu bukan harus adanya air yang mencapai 2 qulah. Jumlah air dua qullah itu adalah syarat agar air tidak menjadi musta'mal atau menjadi mutanajjis.
Sedangkan yang menjadi syarat dalam berwudhu' itu adalah adanya air mutlak (bukan musta'mal atau mutanajjis) yang jumlahnya cukup untuk membasuh anggota tubuh yang termasuk dalam rukun wudhu;
[1] muka, [2] tangan sampai siku, [3] sebagian kepala, dan [4] kaki sampai mata kaki.
Dan ini juga yang menjadi patokan boleh tidaknya tayammum. Kalau memang ada air yang cukup untuk membasuh anggota tubuh rukun wudhu itu semua, maka tidak ada alasan untuk tayammum. Tayammum hanya boleh jika memang tidak ada air yang cukup untuk membasuh anggota rukun wudhu itu.
Sebagai pengingat, bahwa air 2 qulah itu dalam kitab-kitab Al-Syafi’iyyah sering diterjemahkan ukurannya menjadi 5 liter air menurut takaran orang Baghdad. Namun ulama komtemporer menyimpulkan, takaran sekarang, air 2 qulah itu ialah 270 liter.
Sedangkan Rasulllah SAW sendiri berwudhu cukup dengan menggunakan air mutlak sebanyak 1 mud saja. Sebagaimana hadits berikut ini :
كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ مُتَّفَقٌ عَلَيْه
Dari Anas radhiyallahuanhu, dia berkata bahwa Rasulullah SAW berwudlu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud air. (HR. Bukhari Muslim)
Tahukah Anda berapa banyak air sejumlah 1 mud yang digunakan oleh Rasulullah SAW itu?
Dalam kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu susunan Dr. Wahbah Az-Zuhaili disebutkan bahwa bila diukur dengan ukuran zaman sekarang ini, satu mud itu setara dengan 0,688 liter atau 688 ml. [1]
Sebagai perbandingan untuk memudahkan, botol minum air mineral ukuran sedang berisi 600 mililiter air. Sebagai catatan, air 688 ml itu digunakan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang berwudhu'nya sangat sempurna, dengan menjalankan semua sunnah-sunnah dalam berwudhu.
Lalu Dimana 2 Qulah Air Dibicarakan? Dalam madzhab Al-Syafi’iyyah, 2 qulah itu menjadi pembicaraan dalam masalah air musta’mal (yang telah terpakai untuk bersuci), dan juga air mutanajis (yang kejatuhan najis). Dalam 2 masalah inilah, 2 qulah itu menjadi wacana yang penting.
Dua Qulah dan Air Musta’mal
Air musta’mal, dalam madzhab Al-Syafi’iyyah yaitu air yang telah dipakai untuk bersuci yang sifatnya wajib, seperti wudhu atau mandi janabah. Bukan bersuci yang sifatnya sunnah, seperti Tajdiid wudhu (memperbaharui wudhu), atau juga mandi yang bukan mandi janabah.
Nah, air yang sudah terpakai itu memang statusnya suci, namun tidak bisa mensucikan, dalam bahasa kitab ialah Thaahir gheir muthohhir [طاهر غير مطهر] (suci tapi tidak bisa mensucikan). Air ini bisa berubah statusnya menjadi muthohhir (bisa mensucikan) jika air ini dikumpulkan dan mencapai 2 qulah atau lebih.
Maka, jika air yang telah terpakai itu dikumpulkan dan mnecapai batasan 2qulah atau bahkan lebih, statusnya bukan lagi disebut musta’mal, akan tetapi berubah menjadi air mutlak yang bisa digunakan untuk bersuci.
Imam Al-Syirbini, salah satu ulama Syafi’iyyah mengatakan, bahwa alasan kenapa air musta’mal itu tidak bisa mensucikan karena memang dulu juga para sahabat, dengan keadaan mereka yang minim air tidak mengumpulkan air-air yang telah dipakai untuk wudhu atau bersuci untuk dipakai lagi kedua kalinya, akan tetapi mereka malah langsung pindah ke tayammum. Karena mereka tidak mungkin bersuci dengan air yang sudah tercampur dengan hadats.
Lalu kenapa setelah mencapai 2 qulah air itu boleh digunakan? Karena air yang telah mencapau 2 qulah sudah terbebas dari najis, karena banyaknya volume air tersebut. Nabi saw bersabda:
إِذَا كَانَ اَلْمَاءَ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ اَلْخَبَثَ - وَفِي لَفْظٍ: - لَمْ يَنْجُسْ
“kalau air itu mencapai 2 qulah, maka ia tidak membawa najis –dalam riwayat lain- tidak najis” (HR. Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah dan An-Nasa’i)
2 qulah dan Air Mutanajis
Kemudian masalah air yang terkena najis, ini juga pembahasannya sama seperti apa yang telah disinggung pada pembahasan air musta’mal, hanya berbeda dalam beberapa poin.
Semua ulama sejagad raya ini sepakat, jika ada air yang kejatuhan najis, kemudian, air itu berubah salah satu dari 3 sifatnya; warna, bau dan rasa, maka air it air najis, sedikit atau banyak air tersebut, dan tentu saja tidak bisa dipakai untuk bersuci.
اَلْمَاءُ طَاهِرٌ إِلَّا إِنْ تَغَيَّرَ رِيحُهُ, أَوْ طَعْمُهُ, أَوْ لَوْنُهُ; بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيهِ
“air itu suci, kecuali jika berubah (salah satu sifatnya) baunya, rasanya, atau warnanya” (HR. Al-Baihaqi)
Namun ulama berbeda pendapat apabila air yang kejatuhan najis tidak berubah sama sekali, tidak warnanya, tidak baunya dan tidak juga rasanya. Nah, pada masalah ini madzhab Al-Syafi’iyyah membedakan antara air sedikit dan air banyak. Air sedikit itu ialah air yang kurang dari 2 qula, dan air yang banyak itu ialah air yang telah mencapai 2 qulah atau lebih.
Dalam madzhab ini, kalau air yang kejatuhan najis itu tidak berubah sifatnya, maka dilihat apakah itu air banyak atau sedikit. Kalau itu air sedikit maka berubah atau tidak berubah sifatnya, kalau kejatuhan najis ya hukumnya ikut menjadi najis. Dan tentu daja yang najis tidak bisa dipakai untuk bersuci.
Berbeda dengan air yang banyak, yaitu yang mencapai 2 qulah atau lebih. Air yang seperti ini kalau kejatuhan najis, dan najis itu tidak merubah sifat air tersebut, maka air ini tetap suci dan boleh digunakan untuk bersuci. Dalilnya sama seperti yang di atas:
إِذَا كَانَ اَلْمَاءَ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ اَلْخَبَثَ - وَفِي لَفْظٍ: - لَمْ يَنْجُسْ
“kalau air itu mencapai 2 qulah, maka ia tidak membawa najis –dalam riwayat lain- tidak najis” (HR. Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah dan An-Nasa’i)
Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ mengatakan bahwa hadits menjadi dalil kalau memang air yang mencapai 2 qulah itu tidak mengandung najis, karena kalau memang air yang sedikit (kurang dari 2 qulah) dan air banyak (yang mencapai 2 qulah / lebih) itu sama saja hukumnya, lalu untuk apa Nabi saw membedakan? Tentu pembedaan yang Nabi saw lakukan itu karena memang keduanya berbeda.
Madzhab Hanbali Juga Mengikuti
Dan ternyata, metode pembedaan antara air sedikit dan banyak (2 qulah lebih) dalam masalah air yang kejatuhan najis itu bukan hanya punya madzhab Al-Syafi’iyyah, akan tetapi madzhab Hanbali juga memakai ini. mereka mengikuti apa yang dijelaskan oleh madzhab gurunya Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i ini.
Imam Ibnu Qudamah, dalam Al-Mughni mengatakan:
وَأَمَّا مَا دُونَ الْقُلَّتَيْنِ إذَا لاقَتْهُ النَّجَاسَةُ فَلَمْ يَتَغَيَّرْ بِهَا , فَالْمَشْهُورُ فِي الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يَنْجُسُ
“Sedangkan air yang tidak mencapai 2 qulah, jika kejatuhan najis dan itu tidak merubah salah satu sifat air tersebut, maka pendapat yang masyhur dalam madzhab ialah air itu najis”
Madzhab ini bersama madzhab Al-Syafi’iyyah, artinya kalau air itu mencapai 2 qulah atau lebih, dan itu tidak merubah sifatnya, maka itu tidak najis.
Kesimpulan
Jadi jelas disini, bahwa madzhab Al-Syafi’iyyah sama sekali tidak mensyaratkan harus 2 qulah untuk berwudhu. Wacana 2 qulah itu hanya muncul pad permasalah air yang sudah terpakai atau juga air yang terkena najis.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc


[1] Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, jilid 1 hal. 143
Rumah
Fiqih
Indonesia

Read more »

 

KAJIAN KEISLAMAN DAN KEILMUAN

BERITA DAERAH

POLITIK